HIASAN SEPEDA
Pengalamanku ini terjadi sekitar 8
tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Pada
saat itu tanggal 16 Agustus tahun 2007, yang mana aku sedang disibukkan dengan
mempersiapkan bahan-bahan untuk menghias sepeda guna ikut memeriahkan HUT RI
ke-72.
Sepanjang siang ku gunakan waktu
untuk mencari bahan-bahan, yaitu kertas.. lem serta lidi. Setelah semua bahan
terkumpul,aku tidak lekas menghias sepeda, melainkan aku tinggal bermain dengan
teman-temanku terlebih dahulu.
Setelah selesai bermain, sekitar
hampir petang aku pun pulang dan bergegas mandi, shalat, mandi dan belajar.
Pada malam hari aku teringat bahwa aku belum menghias sepedaku sama sekali.
Lalu aku bilang ke papah.
“ pah, gimana ini? Sepedanya io
blum dihias?”
“ yaudah hias sekarang atuh.”
Jawabnya singkat.
“ ahh.. tapi udah malem, io capek.”
Rengekku kepadanya.
Lalu aku meminta tolong kepada
papah untuk menghias sepedaku menjadi sangat bagus, dengan rancangan yang aku katakan
seperti ini dan seperti itu. Dengan senang hati papah mengiyakan
permintaanku, dan lekaslah aku tidur.
Keesokan harinya aku bangun pagi
dan keluar kamar tidur, di sudut ruang tamu terlihatlah sebuah sepeda yang
sudah terhias. Tiba-tiba hatiku menjadi merasa sangat kecewa dan kesal, kemudian
aku berlarilah ke papah dan berkata.
“ papah! Hiasan sepedanya itu
jelek, io ngga suka! Io mintanya kan yang kaya tadi malem dibilang itu!”
Lalu dengan dewasanya papah
menjawab
“ oo.. kalo gitu ayo buat lagi yang
bagus.”
Sambil menahan rasa kesal akhirnya
ku robek-robek dan ku singkirkan hiasan yang menurutku kurang bagus itu.
Akhirnya ku kerjakan sendiri dan meminta papah untuk tidak ikut campur
menghias. Walhasil menghiaspun selesai, dan aku segera bersiap-siap kesekolah
dan langsung berangkat mengikuti kegiatan 17-an tersebut.
Sesampainya di sekolah kami pun
berkumpul , berbincang membandingkan keunikan hiasan sepeda masing-masing.
Ternyata dari sekian banyak sepeda yang dihias ada beberapa yang terlihat
sederhana dan kurang menarik perhatian,
yang salah satunya adalah hiasan sepedaku. Dari situ kemudian aku berpikir
lagi, bahwa hiasan sepeda dari papahku itu sangat unik, lalu aku menjadi merasa
bersalah dan berkeinginan untuk segera meminta maaf kepadanya meskipun malu
untuk mengakui kesalahanku.
Akhirnya ketika aku pulang dan
bertemu papah aku segera meminta maaf sambil tersenyum malu dan berjanji tidak
akan seperti itu lagi. Kemudian beliau bekata
“ papah ingin kamu buktikan dengan
tindakan bukan hanya sekedar bicara saja nak.”

Wah, cerita yg seru mas Aryo..
BalasHapusMengalir. Ah bulek jadi ingin jg nih menghias sepeda anak-anak bulek biar mereka senang.
Wah, cerita yg seru mas Aryo..
BalasHapusMengalir. Ah bulek jadi ingin jg nih menghias sepeda anak-anak bulek biar mereka senang.
Makasih banyak bulek :) iyaa, apasih yg engga buat nyenengin anak dg melakukan hal sederhana dr luar tp bermakna didalam
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus