Jumat, 04 September 2015

cerita pengalaman hiasan sepeda

HIASAN SEPEDA



Pengalamanku ini terjadi sekitar 8 tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Pada saat itu tanggal 16 Agustus tahun 2007, yang mana aku sedang disibukkan dengan mempersiapkan bahan-bahan untuk menghias sepeda guna ikut memeriahkan HUT RI ke-72.
Sepanjang siang ku gunakan waktu untuk mencari bahan-bahan, yaitu kertas.. lem serta lidi. Setelah semua bahan terkumpul,aku tidak lekas menghias sepeda, melainkan aku tinggal bermain dengan teman-temanku terlebih dahulu.
Setelah selesai bermain, sekitar hampir petang aku pun pulang dan bergegas mandi, shalat, mandi dan belajar. Pada malam hari aku teringat bahwa aku belum menghias sepedaku sama sekali. Lalu aku bilang ke papah.
“ pah, gimana ini? Sepedanya io blum dihias?”
“ yaudah hias sekarang atuh.” Jawabnya singkat.
“ ahh.. tapi udah malem, io capek.” Rengekku kepadanya.
Lalu aku meminta tolong kepada papah untuk menghias sepedaku menjadi sangat bagus, dengan rancangan yang aku katakan seperti ini dan seperti itu. Dengan senang hati papah mengiyakan permintaanku,  dan lekaslah aku tidur.
Keesokan harinya aku bangun pagi dan keluar kamar tidur, di sudut ruang tamu terlihatlah sebuah sepeda yang sudah terhias. Tiba-tiba hatiku menjadi merasa sangat kecewa dan kesal, kemudian aku berlarilah ke papah dan berkata.
“ papah! Hiasan sepedanya itu jelek, io ngga suka! Io mintanya kan yang kaya tadi malem dibilang itu!”
Lalu dengan dewasanya papah menjawab
“ oo.. kalo gitu ayo buat lagi yang bagus.”
Sambil menahan rasa kesal akhirnya ku robek-robek dan ku singkirkan hiasan yang menurutku kurang bagus itu. Akhirnya ku kerjakan sendiri dan meminta papah untuk tidak ikut campur menghias. Walhasil menghiaspun selesai, dan aku segera bersiap-siap kesekolah dan langsung berangkat mengikuti kegiatan 17-an tersebut.
Sesampainya di sekolah kami pun berkumpul , berbincang membandingkan keunikan hiasan sepeda masing-masing. Ternyata dari sekian banyak sepeda yang dihias ada beberapa yang terlihat sederhana  dan kurang menarik perhatian, yang salah satunya adalah hiasan sepedaku. Dari situ kemudian aku berpikir lagi, bahwa hiasan sepeda dari papahku itu sangat unik, lalu aku menjadi merasa bersalah dan berkeinginan untuk segera meminta maaf kepadanya meskipun malu untuk mengakui  kesalahanku.
Akhirnya ketika aku pulang dan bertemu papah aku segera meminta maaf sambil tersenyum malu dan berjanji tidak akan seperti itu lagi. Kemudian beliau bekata

“ papah ingin kamu buktikan dengan tindakan bukan hanya sekedar bicara saja nak.”

4 komentar:

  1. Wah, cerita yg seru mas Aryo..
    Mengalir. Ah bulek jadi ingin jg nih menghias sepeda anak-anak bulek biar mereka senang.

    BalasHapus
  2. Wah, cerita yg seru mas Aryo..
    Mengalir. Ah bulek jadi ingin jg nih menghias sepeda anak-anak bulek biar mereka senang.

    BalasHapus
  3. Makasih banyak bulek :) iyaa, apasih yg engga buat nyenengin anak dg melakukan hal sederhana dr luar tp bermakna didalam

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus